Fraksi PAN Minta Pemkab Buat Regulasi Agar Anak Daerah Bekerja di Perusahaan
ROKAN HULU-Melihat banyaknya pemuda Rohul yang masih mengangur karena kurangnya lapangan pekerjaan tersedia, Ketua Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) M. Syahril Topan, meminta Pemerintah daerah, buat regulasi agar anak daerah (lokal) bisa bekerja di perusahaan-perusahaan yang tersebar di Rohul.
“Bila ada regulasinya, maka tentunya nantinya para pemuda asli Rohul. tidak lagi bergantung pada hasil komoditi seperti karet dan kelapa sawit saja,” tegas Topaan, Kamis (8/9).
Jelas Topan lagi, dengan membuat regulasi untuk memecahkan permasalahan ekonomi di tengah masyarakat, yang kini kian sulit. Seperti halnya kini dirasakan para petani karet di Rohul yang bertambah terpuruk sejak beberapa tahun terakhir akibat anjloknya harga karet. “Kita lihat saat ini, harga karet jauh menurun. Banyak anak daerah yang tidak bekerja. Dampaknya, kenakalan remaja, kriminal serta peredaran narkoba meningkat sehingga perlunya kesungguhaan dan pemikiran pemerintah daerah untuk membuat regulasi yang intinya bisa tingkatkan ekonomi masyarakat,” tegasnya.
Juga dikatakan Topan, bila dilihat hingga hari saat ini, perusahaan yang banyak di Rohul belum terbuka terkait dalam hal penerimaan pekerjaan. Sehingga, sangat diperlukan campur tangan pemerintah dalam pendataan jumlah tenaga kerja lokal di perusahaan yang ada, sehingga nantinya akan diketahui berapa kebutuhan tenaga kerja lokal. “Berharap, agar mengedepankan pemikiran tentang keadaan kita hari ini. Di pemerintahankan sudah ada bidang-bidangnya, sehingga pemerintah harus serius mengurus masyarakat. Kemudian yang paling terpenting, sejauh mana kesempatan kerja bagi anak daerah, kita harus buat regulasi. Kita juga mendorong rekan-rekan DPRD untuk membuat regulasi,” sebutnya.
Topan juga mengharapkan, rekan-rekan DPRD juga harus berfikir apa regulasi akan diprbuat dalam mengatasi masalah tersebut. Juga pemerintah harus bisa batasi eksodus warga pendatang ke Rohul yang akan bekerja di perusahaan besar. Karena konsep perusahaan, seharusnya selain cari keuntungan juga harus memikirkan masyarakat tempatan.
Kini banyak anak-anak dan generasi Rohul, mengejar sebagai tenaga honorer untuk mendapatkan pekerjaan. Itu akibat tidak terbukanya peluang pekerjaan di daerah, sehingga diketahui anak daerah sulit mendapatkan pekerjaan. “Kita tidak meminta, anak tempatan atau lokal harus jadi manajer di perusahaan. Tapi saat ini yang terjadi untuk tukang sapu saja perusahaan harus diimpor tenaga kerja dari luar Rohul,” harapnya.
Juga seperti Dinas Sosial Tenaga kerja dan Transmigrasi (Disonakertrans), juga harus mendata pekerja di perusahaan. Setelah didata baru, nantinya diketahui berapa jumlah kebutuhan anak daerah yang bisa bekerja di perusahaan itu. “Berharap agar perusahaan di Rohul, bisa dan lebih mengutamakan anak daerah untuk bekerja,” paparnya.(dpr/raj)